Kamis, 26 Maret 2009

Farmer

Alkisah, hidup seorang Saudagar Kaya. Hartanya sangat berlimpah sampai tak terhitung lagi jika kita memiliki satu petak sawah maka itu hanya seukuran elektron harta saudagar itu. Seorang petani dari Desa berniat menyewa sawah Saudagar Kaya tersebut satu petak. Dalam perjanjian dinyatakan bahwa petani tersebut menyewa dalam jangka waktu yang tidak ditentukan akan tetapi dia berkewajiban untuk merawat dan jika hasilnya berlebih memberikan sebagian hasil jerih payahnya kepada masyarakat sekitar yang membutuhkan. Dalam ketentuan yang lain disebutkan juga bahwa Saudagar Kaya memiliki hak untuk mengambil sawahnya sewaktu-waktu tanpa harus memberitahukan kepada petani terlebih dahulu.
Setelah ditanda tangani surat perjanjian dan di ambil sumpah mulailah sang petani menggarap sawahnya. Karena lahannya masih subur & air mengalir cukup lancar maka tanaman padi milik Pak Tani terlihat hijau bak permadani, sedangkan petak sawah milik petani lain ada yang mulai diserang hama bahkan ada yang puso. Dalam hati, Pak Tani berseloroh, ”Liat nih padiku paling bagus diantara milik warga desa ini.” Masa panenpun tiba Pak Tani benar-benar mendapatkan hasil yang maksimal. Karena terbuai oleh hasil panen yang berlimpah Pak Tani lupa akan janjinya untuk memberikan sebagian hasilnya kepada warga yang membutuhkan, meskipun Sang istri senatiasa mengingatkan, Pak Tani malah membentak dan berkata: ”Apa sih artinya sepetak sawah bagi Saudagar Kaya itu, dia juga tidak akan tahu klo aku panen banyak lha wong tempatnya sangat jauh dari sini dan lagi aku bisa beralasan klo tahun ini gagal panen karena warga lain juga mengalami hal yang sama.
Peristiwa yang sama juga terjadi pada musim panen berikutnya, bukannya menjadi tambah bersyukur Pak Tani menjadi semakin kikir, Pak Tani mulai membayar orang untuk mengerjakan sawahnya. Karena tidak tahan dengan kesenjangan yang ada maka beberapa warga mengadukan Pak Tani ke Saudagar Kaya. Saudagar Kaya itu akhirnya menyanggupi melakukan sidak ke desa tersebut. Pada waktu kunjungan, Saudagar Kaya mengadakan sesi tanya jawab dengan warga, karena takut rahasianya terbongkar Pak Tani akhirnya mulai bertanya kepada Saudagar Kaya dengan berpura-pura mengadukan permasalahan sawah yang dikelolanya kurang subur, pasokan air berkurang dan seringkali diserang hama sehingga hasil yang didapat kurang maksimal. Dengan bijak saudagar ini menawarkan alternatif sawah kepada Pak Tani, dia ditawari sawah diseberang pulau, air dijamin tidak akan kering, tanahnya subur dan untuk hama penyakit bisa diberantas jika Pak Tani mau meramu obat yang sudah dibuatkan resep oleh saudagar tersebut.
Dengan ketamakan dan kerakusannya Pak Tani langsung menyetujuinya, ia rela meninggalkan semua yang sudah didapatkannya termasuk istrinya untuk meraih harta yang berlimpah didepan mata. Ternyata tidak hanya Pak Tani saja yang tergiur dengan tawaran Saudagar Kaya itu ada juga petani lain yang ingin mengadu nasib di pulau tersebut karena sudah jenuh dengan kehidupan di Desa ini.
Semua petani yang menginginkan pindah lokasi diberangkatkan bersama dan baru berpisah setelah mendekati pulau masing-masing.
Kehidupan baru dimulai, Pak Tani yang terbiasa ongkang-ongkang kaki di Desanya mulai kebingungan darimana memulai, sebuah pulau yang tampak indah dari Desanya ternyata menyimpan segudang misteri. Hari-hari berlalu Pak Tani tampak semakin kurus, sakit-sakitan dan mulai menghujat Saudagar Kaya dengan segala cacian dan makian seolah-olah Saudagar tersebut telah menjerumuskannya ke jurang kehinaan. Tiba-tiba langit mulai menghitam, angin bertiup kencang disertai kilat yang menyambar-nyambar diangkasa menambah seram kehidupan dipulau itu. Diantara rerimbunan ranting-ranting pohon yang menjulang tampak wajah seram Pak Tani yang melotot terbujur kaku akibat sambaran kilat.
(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(QS Al Anfaal: 53)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar